Indonesia is one.

From a few months ago, all of us knew that there are more politics issues in Indonesia. Especially in Jakarta. Lots and lots of love, hate and anger are shared in our capital city, Jakarta. I, live in Bandung but I also know some of the news about Indonesia. Honestly, I don’t really like to read news about politics. I love reading fiction book more than I love reading new. But in the end, I have to know about the news and what is happening in my own country. So then I started to read an article about the most famous ‘thing’ in Jakarta recently.

Again, the news was about Ahok. Jakarta’s last governor. The article says about Ahok’s court that has been refused. Obviously, the main ideas of this article is about how Ahok has been accused. And he has to be in a few court. This court is talking about is he going be in jail or actually it’s only a sensation from some people.

I choose this article because this news has been the most famous and it is the most crazy-unbelievable thing in social media. It’s like a thing that we could find in social media almost every time. So then I decided to read more about this issue.

The only thing that I learn about Java after reading this article is that Indonesian people (that most of them lives in Java ) can believe in something without knowing the truth. Before this issue start, Ahok gave a speech to some people in Thousand Island. He says a sentence that is quite sensitive and all of this happens. I think that we could learn something from this issue. That we should believe in something that is trusted, and we know the truth.

I do have a lot of thoughts from this issues. Especially from the article, I have a thought. Why do they change the witness that easily? In the article, it says that from 6 witness, 3 of them can’t came. But then weirdly, there are 2 new witnesses that came. And by that, Ahok’s lawyer postponed the court until January 24th. For me, this crazy-unbelievable news is nonsense. Yes, he does quote a sentence from Al- Qur’an. But what I think is actually it’s a way to lowers his position as a governor in Jakarta. And again, I admit it that what I think is not the same as what the other think. But I guess, we can at least think clearly and make sure some or a news, before we believe in it. So, that is what I think about this issue, once again I admit it that our thoughts are not the same. Every person has their own thoughts, just like me.

 

There are five difficult words that I find in this article, here it is;

 

Blasphemy – Pemfitnahan

Alleged – Dugaan

Summoned – Dipanggil

Presiding – Memimpin

Prevailing – Umum

 

Iklan

Ekspresi diri

Selama ini aku seringkali memerhatikan watak dan rupa orang-orang di sekitarku. Apa yang mereka rasakan atau apa yang sedang mereka pikirkan biasanya terpancar di raut muka masing-masing orang. Bila senang, orang itu biasanya akan tersenyum lebar. Namun ada juga yang menyembunyikan kesenangannya dengan cara memasang muka biasa saja. Namun kebahagiaan itu tetap dapat terlihat dari pancaran matanya yang bahagia. Sama seperti bila mereka sedang bahagia, kesedihan juga bisa terpancar dari raut wajah atau dari mata sang pemilik. Mata mereka akan terlihat sayu dan redup. Kesedihan juga bisa terlihat dari wajah orang tersebut dari sesering apa ia tersenyum atau tertawa. Lain lagi bila orang itu sedang marah, biasanya orang marah akan ‘mengamuk’ dengan caranya masing-masing. Ada yang membanting barang, ada yang diam ada juga yang teriak teriak, bahkan ada yang menyakiti diri sendiri. Bila sedang marah, sorot mata yang dipancarkan oleh orang tersebut biasanya tajam dan menyala-nyala karena kemarahannya. Ekspresi semangat juga tak bisa di sama ratakan dengan ekspresi lainnya. Bila sedang semangat, biasanya orang itu akan memancarkan sorot mata yang berbinar-binar dan bahagia karena adrenalin nya terpacu.

Namun, apakah ekspresi itu memancarkan apa yang dirasakan oleh orang itu? Menurutku belum tentu. Banyak orang yang menyimpan perasaan yang sebenarnya dan menunjukkan ekspresi lain, berharap orang-orang disekitarnya melihat bahwa ia sedang bahagia. Sebenarnya bila kita itu peka terhadap lingkungan sekitar kita, kita bisa merasakan rasa sebenarnya yang ada dalam diri orang itu. Karena tanpa kita ketahui, beberapa orang lebih memilih untuk menyembunyikan rasa yang dia rasa daripada memerlihatkannya kepada orang-orang disekitarnya.

 

Tulisan di atas adalah salah satu dari sekian banyak ide-ide tulisan yang aku miliki di dalam kepalaku. Akhir-akhir ini aku sedang senang untuk menulis apapun yang ada di dalam kepalaku. Entah itu aku menulisnya di dalam kepalaku atau aku menulisnya di memo hape. Beberapa tulisanku sudah aku taruh di blogku. Biasanya, aku menulis bila aku sedang mendapatkan ide dan sedang bisa menulis dengan lancar. Nah, menurutmu bagaimana tulisanku ini?

Google tahu segalanya, bahkan profile pacarku aja ada :p

Libur libur libur!!! Semua anak, hampir semua anak yang masih bersekolah pastinya senang dengan apa yang namanya liburan. Bagiku, liburan adalah saat di mana kami, para murid, dapat ‘meregangkan’ tubuh dan otak kami dari segala macam aktivitas sekolah yang berat. Tapi, bagaimana rasanya jika di dalam liburan itu ada pekerjaan rumah? Rasanya, jujur aja nih ya, males… Namun, kali ini kakak membuat pekerjaan rumah yang diberikan kepada kami sedikit lebih menarik. Yaitu kami diminta untuk menggali lebih dalam lagi minat kami masing-masing yang tentunya berbeda-beda.

Dari segala minat yang aku miliki, aku memilih minat memasak-ku. Aku mau menggali lebih dalam lagi minat memasak-ku ini karena dari dulu aku selalu ingin menjadi seorang chef dessert yang baik, dan tentunya dikenal dengan baik di kalangan banyak orang. untuk menggali dan mengasah kemampuanku dalam bidang memasak, aku memilih untuk memasak salah satu dari sekian banyak resep dessert yang aku ketahui. Makanan ini adalah makanan yang aku sukaaaaa, namun aku belum pernah membuatnya. Makanya, aku penasaran cara membuatnya.

Makanannya adalah… jeng jeng jeng *dumrolls* KUE SUS! Nah, tapi apa hubungannya topikku dengan judulnya? Hmm, apakah ada yang bilang kalau aku sudah tahu resep dari kue sus yang akan aku buat? Nope, aku dan mama ( yang bantuin aku bikin ) bener-bener nggak tahu menahu tentang resepnya. Nah, ini nih disaat dimana Google bekerja.

Tanpa Google, aku nggak akan tahu apa resepnya. Otomatis tanpa Google aku nggak akan bisa buat kue ini. Karena teknologi itu sekarang sudah maju, jadilah aku mendapatkan resep yang pas. Ini dia resepnya:

BAHAN KUE :

125 gr mentega putih

150 gr tepung terigu

250 ml air biasa

4 butir telur besar

 

BAHAN VLA SUSU :

500 ml susu

50 gr gula pasir

3 sendok makan maizena

 

ALAT :

Panci kecil

Spatula kayu

Mixer

Loyang

Oven

Piping bag

 

CARA :

  1. Masukkan mentega dan air ke dalam panci lalu didihkan. Biarkan mentega meleleh sepenuhnya dan pastikan air mendidih,
  2. Bila air sudah mendidih, masukkan tepung terigu perlahan-lahan sambil terus diaduk dengan spatula kayu. Setelah adonan tercampur rata, sisihkan dan biarkan mendingin.
  3. Bila adonan sudah mulai mendingin, siapkan mixer dan pecahkan telur di mangkuk yang berbeda.
  4. Nyalakan mixer dalam kecepatan rendah, lalu kocok adonannya sebentar agar adonan menjadi gumpalan kecil.
  5. Masukkan telur satu persatu sambil terus dikocok. Setelah telur terakhir masuk, naikkan kecepatan mixer satu atau dua angka diatasnya. Bila sudah dalam tekstur yang tepat, matikan mixer.
  6. Masukkan adonan dalam piping bag lalu oleskan mentega biasa ke loyang agar kue tak menempel. Oven juga sudah bisa mulai dipanaskan.
  7. Gunting sedikit ujung piping bag sesuai selera, lalu mulai bentuk kue sesuai dengan keinginan.
  8. Masukkan loyang yang sudah penuh, tunggu hingga kue sudah matang. Berwarna kuning kecoklatan

Sambil menunggu kuenya matang, kita bisa membuat vlanya.

CARA :

  1. Masukkan susu dan gula ke panci lalu terus diaduk hingga mendidih.
  2. Masukkan larutan maizena ke dalam susu yang mendidih, semakin banyak maizena semakin kental vlanya.

Nah, kalau kue sudah jadi tinggal masukkan vla ke dalamnya. Dan kue pun siap dimakan! Ini adalah kegiatan yang aku lakukan untuk menggali minat memasakku. Resep diatas boleh dibuat kok. Selamat mencoba!

 

 

 

 

 

 

Penyelamatan dan perubahan

yearing

Judul : The Yearling, Jody dan anak rusa

Pengarang : Marjorie Kinnan Rowlings

Penerjemah : Rosemary Kesauly

Ilustrasi Cover : Ratu Laksmita Indira

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama : Jakarta, Maret 2011

ISBN : 978-979-22-6829-4

Tebal Buku : 504 halaman

Di dalam buku ini, Merjorie menuliskan tentang seorang anak lelaki, Jody, yang tinggal di tanah pertanian bersama dengan kedua orangtuanya. Ia adalah seorang anak yang senang bertualang, setiap kali ada kesempatan untuk menjelajahi hutan, seperti untuk mengambil air atau kayu bakar, ia akan dengan senang hati melakukannya. Sampai satu hari, ketika ia sedang berkelana ia dan ayahnya menemukan satu anak rusa yang sedang meringkuk ketakutan disamping mayat ibunya. Karena merasa kasihan, ia meminta kepada ayahnya dan juga memohon untuk diperbolehkan memelihara rusa itu.

Menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun. Akhirnya, anak rusa tersebut menjadi semakin besar tubuhnya. Bertumbuhnya tubuh rusa tersebut sama dengan bertumbuhnya rasa cinta Jody kepadanya. Namun, disaat rusa itu, Flag, sudah besar ayah Jody terkena penyakit yang membuatnya tak dapat lagi bercocok tanam maupun berburu. Otomatis, semua tanggung jawab tersebut pindah ke tangan Jody. Dengan semua tanggung jawab itu, mampukah Jody terus menjaga Flag? Atau, hal buruk akan menimpa Flag?

Buku ini menjadi salah satu buku pemenang Pulitzer Prize 1939. Namun, disaat aku mendapatkan buku tersebut tepatnya di tahun 2013 aku masih belum terlalu bisa mengikuti alur ceritanya yang menurutku agak bertele-tele. Nah, disaat aku mengulang membaca buku ini di tahun 2015 aku mengerti bahwa apa yang aku sebut bertele-tele itu adalah sebenarnya hanyalah suatu bentuk menulis yang detail. Dan aku akui bahwa buku ini sebenarnya menarik untuk dibaca karena buku ini mengajarkanku untuk bertanggung jawab akan pilihanku dan merelakan apa yang sudah tidak ada. Bagi kalian yang ingin tahu apa kelanjutan dari ceritanya, kalian harus baca buku ini!

Mengenal lingkungan sekitar

Kembali lagi ke saat-saat aku bercerita tentang perjalanan kecil kami. Di sekolahku, kalau sudah jenjang SMP kami akan pergi ke luar sekolah dan melakukan suatu kegiatan yang berbeda per jenjangnya. Tahun lalu, saat aku kelas 7 kami pergi nyaba lembur. Dan untuk tahun ini, kami akan perjalanan besar! Perjalanan di mana kami pergi ke beberapa kota di jawa dan menggali berbagai informasi di sana. Namun sebelumnya, kami perlu melakukan latihan terlebih dahulu. Latihannya tak hanya berupa latihan fisik namun juga latihan manajemen.

Salah satu latihan fisik yang sudah kami lakukan adalah ekspedisi kecil ke lingkungan sekitar sekolah. Ekspedisi itu kira-kira tiga hari lamanya. Hari pertama adalah hari Kamis, hari itu kami pergi ke RT04 yang ternyata ada di belakang sekolah kami! Di sana, aku dan rekan kerjaku, Carenza, mewawancarai dua warga (masing-masing satu warga) dan setiap kelompok harus mewawancarai pak RT04 di sana. RT04 itu adalah tempat yang bisa dibilang kumuh dan saat itu sedang ada perbaikan saluran air. Sehingga perjalanan kami agak terhambat oleh perbaikan tersebut. Di sana juga ada satu kandang soang lhoo.. Soangnya lucu namun berisik dan agak mengganggu wawancara kami. 

Masih melanjutkan perjalanan, kami setelah dari RT04 semua kelompok langsung berangkat ke kecamatan Sukajadi yang ada di jalan Sukamulya. Kecamatan itu adalah satu dari sekian banyak kecamatan yang menjalankan program Eco Office, progam yang membuat sebuah kantor menjadi tempat yang ramah lingkungan. Komponen yang mendukung program ini ada sangat banyak, contohnya adalah biopori dan vertikal garden. Ketua kecamatannya adalah pak Toto, ia bercerita banyak mengenai birokrasi dan topik utamanya adalah Eco Office. Kami sekelas juga sempat masuk ke dalam kantornya untuk melihat program ini benar-benar dijalankan. Namun sayangnya, program ini masih belum berjalan dengan baik karena masih ada karyawan yang merokok tak di tempatnya dan membuang puntung rokok di mana pun. Ada juga yang menyalakan lampu padahal tak terlalu butuh. Hal itu menurutku sangat disayangkan karena semestinya program ini akan menjadi menguntungkan bagi banyak orang (bila program berjalan dengan lancar).

Hari esoknya, kami pergi ke sungai Djunjunan yang letaknya tak terlalu jauh dari Kecamatan Sukajadi. Di sana kami kembali mewawancarai seseorang dan melihat kondisi sungai itu. Bagiku, sungai ini tak terlalu bersih karena ada banyak sampah di sungainya. Juga ada banyak tumpukan sampah di pinggir sungai yang sepertinya akan terbawa arus bila hujan besar. Nah, kesadaran kesadaran akan hal seperti inilah yang seharusnya di kembangkan dalam pemikiran masyarakat Bandung. 

Lanjut dari sana, kami segera berangkat ke TPS ( Tempat pembuangan sementara ) Pasteur. Disana kami kembali bertanya-tanya mengenai banyak hal. Salah satunya adalah mengenai bagaimana banyak orang dengan seenaknya membuang sampah ke TPS dengan di lempar. Padahal para pekerja di sana juga sesama manusia yang ingin di hormati. Dan ternyata, sampah yang di hasilkan TPS ini sangat banyak. Jumlahnya… tiga gunung perhari! Terbayang kan ada berapa banyak sampah di TPA? Menurutku akan lebih baik bila kita awalnya memilah terlebih dahulu, mengolah yang organik menjadi kompos dan yang anorganik di jual agar menghasilkan. Dari sana, perjalanan kami dilanjutkan beberapa hari setelahnya. 

Hati terakhir pun tiba! Kali ini kami di beri tantangan yang lebih besar. Kakak tak memberi tahu kami di mana tempatnya. Alamatnya adalah bank sampah RW02 dan nanti ketemu ibu Komala. Keluar sekolah kami semua langsung bergegas mencari orang yang bisa di tanya tentang alamat ini. Aku memilih untuk bertanya pada satpam sekolah. Setelahnya semua anak langsung pergi ke tujuan yang sama. Namun ternyata kami salah alamat! Bukannya ke RW02 kami malah pergi ke RW05, tapi tak apa. Dengan itu kami jadi belajar kalau kami mau pergi ke satu alamat, yakinkan dahulu informasinya benar baru setelahnya pergi ke alamatnya. 

Sampainya di sana, kami mengobrol dengan ibu haji Apon. Ia bilang di bank sampah orang-orang akan dapat uang bila menyetor sampah. Setiap jenis sampah ada harganya. Disan juga ada banyak tanaman. Ada sekitar 100 lebih jenis tanaman. Keren yaa!! Habis itu kami membantu ibu-ibu itu memberikan sampah ke pengumpul dan pulang! 

Asik deh! Sampai ketemu lagi!

A one year nature video

Java. Believe me or not, someone has been traveling Java for one year. One year, 50 places in Java. Mountains, beach, jungles and waterfalls in Java. The director, Febian Nurrahman Saktinegara, he’s the brain of an amazing and unbelievable non-narrative video about the nature in Java. I dont know what he thinks about the purpose of the whole video. But for me, i think that the purpose of the video is about how he want people to see our nature. To see how beautiful our nature looks like. And how he wanted all of us to know that our country can be more bautiful than other country. And by that, we have to love our nature, love it dont harm it.

This video makes me think that Java is more beautiful Than i ever imagined. And it also makes my perception about Java change so much. Like, for example, all of this time i always thinks that Java is a place where there is a lot of trash, full of people that never cares about the nature. But than, all of this time, my thoughts about Java is 100% wrong. I’ve never seen a such beautiful nature like that. Well i even think that the video was made overseas.

Well of course i have to tell you guys my feelling during the video watching. it was fully mixed. I feel proud, amazed, surprised, scared and also peacefull. The thing is what am i scared of? To be honest, i feel scared because the nature can put a revenge on us. Whenever, wherever. I’m scared if i do something horable to the nature and i dont even recognize it.

What about the scenes? All of the scenes was amazing. The way the shoot for the scene, the angle that he takes. It’s amazing. My favorite part of the video is when he shoot the lanters that are flown by the buddist in the Vesak Day. It was beautiful, i can see that the lanters fly through the sky, higher and higher. The moment where he shoot the waves, actually the waves that hit low cliff and the water flows passing the cliff. The sound of the wave. It was amazing. My favorite moment is when Febian shoot the temple at Yogya. I really love the way he takes the angle of his shooting. It’s amazing. And the waterfalls, the sound of the water falling down, the time lapse that he makes (not the waterfall i guess) its really peacefull. Well i was supposed to pick only 3 favorite magnificent scene. But i cant! Thers too much magnificent scene. The last scene that i love is the stars that he time lapse it at Moko Hill.

After watching the video, i actually really want to travel all of the places that he shoot. Especially to the waterfalls and the temple. I really love to enjoy watching, only watching, the nature. Well while i write this paragraph i already imagining myself in front of a water fall and in front of a big and amzing temple. Beside that, i also want to take a few (A few for me is maybe a lot for you guys) photo. I also loved how the temple have the most amazing and the most beautiful architecture.

You can watch the video trailer here!  https://www.youtube.com/watch?v=ybwOOSt8Ur0

 

Berkunjung untuk bermain itu asik lho!

Di Bandung, ada banyak sekolah. Sekolah swasta, negeri dan sekolah luar biasa. Ada sekolah di pelosok dan favorit di kota. Kebetulan, di tanggal 19 September 2016 ada sekelompok anak kelas 8 (SMP 2) yang berkunjung ke sekolah tetangga. Mereka adalah aku dan teman-temanku. Kita berasal dari sekolah Semi Palar. Nah, di dekat sekolah kami (50 – 70 meter jaraknya), ada satu sekolah yang bernama SD Caringin. Tema obrolanku hari ini masih sama dengan post terakhirku, yaitu tentang board game ( Cerita lengkap tentang boardgame bisa di lihat di post “Siapa yang mau main?! Gabung sama kita yuk!”). Kali ini aku akan mencaritakan pengalamanku berbagi game dengan adik-adik dari SD Caringin.

Kami memulai hari dengan menyiapkan boardgame milik kami masing-masing. Kata ‘menyiapkan’ ini berarti kami menyelesaikan apa yang belum selesai, namun belum finalisasi. Untuk kelompokku, kami hanya menyelesaikan mengecat box dan merapihkan guntingan kartu. Setelah semua pekerjaan selesai kami kerjakan, KAMI BERANGKAT! Seperti yang kubilan, sekolah kami bertetanggaan, jalan ke SD Caringinnya pun nggak sampe 5 menit kok! Sampai disana kita bersalaman dengan ibu kepala sekolahnya. Katanya, langsung saja kita ke lorong kelas 4, biar bisa langsung main.

Baru kita duduk sebentar, tiba-tiba “KAKAK AKU MAU MAIN!!!”, segerombolan anak-anak kelas 4 mendatangi kami sampai-sampai kami harus membujuk mereka untuk pindah ke kelompok yang duduk di sebelah kami. Pas ditanya ” Siapa yang mau main?!”, dengan wajah antusias dan gembira, mereka berteriak “AKU!” sembari mengacungkan tangannya tinggi tinggi. Karena ada terlalu banyak anak-anak yang mau main, akhirnya kami meminta mereka untuk membagi rata semua anggota yang mau main jadi 6 kelompok ( karena pemainnya cuma bisa 6 ).

Karena kelompokku anggotanya 4 orang, jadi kita membagi shift menjelaskan boardgamenya. Tap ternyata, nggak kerasa waktu main sama kelas 4 itu udah abis! Jadi kita harus menyelesaikan game di ronde itu dan pindah ke lorong kelas 5.Sambil menunggu kelas 5 siap, nggak disangka ada anak-anak kelas empat yang meminta tanda tangan kita. Lucu ya! Setelah kelas 5 siap, kita pindah ke kelas 6 dan main lagi.

Leganya, tanggapan dari anak-anak disana sangat positif. Mereka sangat senang ketika diberi tahu kalau timmnya tinggal satu step lagi lalu mereka bisa menang. Daya olah mereka untuk mengerti cara bermain sangat cepat menurutku. Walaupun memang setiap jenjang jangka waktu untuk memahaminya berbeda, namun waktu mereka terhitung cepat untukku. Perbedaan yang aku rasakan pun cukup kontras, saat aku bersama kelas 4, mereka masih terlihat seperti anak kecil dan masih butuh dampingan beberapa saat. Untuk kelas lima, beberapa saja yang membutuhkan dampingan. Nah, enaknya untuk kelas 6 kita tak perlu mendampingi mereka lagi. Hanya terkadang mereka bertanya tentang beberapa hal.

Secara visual, sekolah Caringin memang berbeda dengan Semi Palar. Mereka punya lorong untuk setiap jenjang. Dan kelasnya pararel, sementara di Smipa tidak. Lalu secara cara pembelajaran, mereka belajar menggunakan buku cetak, sementara kami belajar sesuai apa yang kakak (guru) jelaskan.

Setelah kami berpamitan dengan guru dan anak-anak. Kami pulang, lucunya ada yang mengantar kami pulang sampai ke gerbang depan sekolah! Asiknya hari ini!

Broken Home

Hampir semua orang yang mengenalku pasti tahu kalau aku suka banget sama grup band 5 Seconds Of Summer. Sedikit cerita soal band itu deh, mereka beranggotakan 4 orang. Luke Hemmings penyanyi utama sekaligus favoritku, Calum Hood pemain bass, Michael Clifford pemain gitar dan Ashton Irwin pemain drum. Band mereka dibentuk tahun 2011. Sampai saat ini mereka sudah punya 10 album besar dan album mini.

Salah satu lagu mereka yang berjudul Broken Home ada di album Sounds Good Feels Good. Lagu ini bercerita tentang seorang anak yang merasa menderita karena kedua orangtuanya berpisah. Dimulai dengan lirik lagu yang mengatakan bahwa terjadi banyak pertengkaran di antara kedua orangtuanya dan pernah ada kebahagiaan, lalu tentang bagaimana semuanya harus diterima. Lalu diakhiri dengan lirik yang mengatakan kalau ia merasa sendiri di dalam keluarga yang hancur itu.

Aku suka dengan lagu ini karena menurutku di luar sama ada banyak sekali orang-orang yang merasa kesepian dan sendiri karena hancurnya sebuah keluarga. Dengan lagu ini aku jadi sadar kalau kita harus mensyukuri kebahagiaan yang ada, karena hal itu bisa hilang dalam sekejap. Dari lagu ini, aku juga tahu kalau sesuatu yang terjadi di dalam keluarga akan sangat berdampak pada anaknya. Terutama pada apa yang terjadi diantara orang tua, hal itu akan sangat mempengaruhi seorang anak. Lagu ini juga enak didengar walaupun berbeda dengan lagu-lagu 5SOS yang biasanya mereka buat. 

Siapa yang mau main?! Gabung sama kita yuk!

Semuanya suka main game kan? Mulai dari permainan tradisional sampai ke game elektronik. Kemarin ini, ada satu komunitas yang dengan sukarela membantu kami membuat board game. Ada yang kenal dengan komunitas Kummara? Mereka adalah suatu komunitas yang membuat board game. Komunitas ini membantu kami untuk membuat board game rancangan kami sendiri.

2 kakak yang datang untuk membantu kami bernama Kak Andre dan Kak Isa. Mereka memulai sesi diskusi dengan perkenalan. Setelah perkenalan, masing masing kelompok menjelaskan konsep (board game) sementara secara singkat dan bergilir. Baru setelahya kita main game!

Kak Andre dan Kak Isa membawa 2 game yang berbeda, yang aku pilih untuk mainkan adalah game Cash and Guns. Walaupun simpel, tapi asik kok! Sehabis memainkan game untuk referensi kita nanti, baru 2 kakak itu menjelaskan tentang tips and tricks membuat board game. Menurut mereka, pembuatan board game itu bisa dimulai dari pemikiran konsep, cara atau aturan. Jika ketiga hal itu sudah terpenuhi, barulah kita membuatnya dalam bentuk fisik. Dalam tahap ini, kita tak perlu memikirkan visualnya terlebih dahulu. Yang penting adalah konsepnya dulu. Biasanya konsep akan matang sempurna jika sudah direvisi berulang kali.

Setelah konsep matang, baru kita memikirkan soal tampilan luarnya, setelah tampilan disetujui, baru produk kita bisa dibuat.

Sesi kali ini menurutku asik sekali, kalian bisa search tentang Kummara ya! Nggak ada banyak komunitas game di Indonesia, karena itu, jangan di sia-siain kesempatan yang kali ini. Selamat main!

The Mortal Instruments : City Of Ashes

Judul : The Mortal Instruments Series City Of Ashes

Penulis : Cassandra Clare

Penerbit : PT Ufuk Publishing House

Jumlah Halaman :614

ISBN : 978-603-8801-30-0

Clary Fray, anak perempuan Jocelyn Fairchild ingin kembali ke kehidupan normalnya lagi. Namun sayangnya, ibunya tidak bisa dibangunkan. Ia terpaksa kembali ke dunia pemburu bayangan disaat ia mengetahui kakaknya , Jace, menghilang dari Institut.Hal berikutnya yang ia ketahui adalah Jace dimasukkan ke penjara kota tulang. Saat ditahan, jace mendapatkan ayahnya, Valentine, mengambil pedang mortal. Semuanya menjadi semakin rumit disaat Simon memutuskan untuk pergi ke Hotel sarang Vampir, tak lama setelahnya Clary mengetahui kalau dirinya sedang berada di kuburan Yahudi menyaksikan Simon bangkit dari dari kuburan bersama Jace.

th

Di sisi lain, Valentine sedang mencoba melakukan sebuah ritual dengan Maia, si manusia serigala, dan Simon, si vampir baru. Tentunya Clary dan Jace harus bergegas menyelamatkan mereka. Dengan bantuan dari banyak pemburu bayangan yang lainnya, mereka berhasil membobol masuk ke kapal Valentine. Di dalam kapal, Clary dan Jace berhasil menyelamatkan Maia dan Simon. Disaat Jace mencoba menyelamatkan Simon dengan membiarkannya meminum darahnya, Clary berhasil menghancurkan kapal dengan rune buatannya sendiri. Di perjalanan pulang, Simon terkejut dengan mengetahui dirinya dapat terkena sinar matahari. Wah, suatu berita mengejutkan bagi semua orang, apalagi bagi kaum vampir. Setelah pulang, Clary kembali ke rutinitas sehari-harinya, sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang tamu yang mengaku bisa menyembuhkan sekaligus membangunkan ibunya.

 

Aku memilih untuk membaca buku ini karena aku senang sekali menonton seri pertamanya, karena saat itu aku tidak tahu kalau film itu diangkat dari sebuah buku. Menurutku, buku ini patut dibaca, terutama untuk para penggemar cerita fantasi. Namun bukan berarti buku ini tidak patut dibaca oleh penggemar buku bergenre lain. Buktinya, aku sudah membaca buku ini berulang-ulang dan tak pernah bosan. Asiknya, Cassandra tidak berhenti di buku kedua, ia melanjutkan meuliskan sampai ke buku ke-5.