Diving women of Jeju

Korea terkenal dan mendunia dengan aliran musiknya yang digemari banyak anak-anak muda. Selain musiknya, ada juga drama atau film serian produksi mereka yang digemari masyarakat usia remaja hingga dewasa. Namun, selain karya-karya mereka yang mendunia tersebut, ada juga keindahan dan keunggulan alam mereka yang kurang diminati oleh masyarakat internasional.

Salah satu keunggulan alam yang mereka miliki adalah Pulau Jeju. Pulau Jeju, atau yang dikenal dengan Jeju Island (제주도), ini dapat menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi bila akan pergi ke Korea. Pulau ini dikenal dengan nama Samdado (삼다도), yang memiliki arti pulau dengan tiga kelimpahan. Kelimpahan yang dimiliki ini adalah wanita, bebatuan dan angin. Bebatuan dan angin menjadi kelimpahan mereka karena alam yang dimiliki oleh Pulau Jeju masih sangat asri dan nyaman untuk dinikmati. Selain alamnya yang masih sangat baik, Jeju memiliki satu hal yang menjadi ciri khas mereka.

Pemandangan para wanita yang memakai baju selam dan peralatan selam merupakan pemandangan yang familiar dan biasa di Pulau Jeju, karena hal tersebut adalah sebuah budaya bagi mereka. Para wanita yang menjadi penyelam ini biasanya berangkat pagi-pagi untuk menyelam dan menangkap atau mengumpulkan kerang dan gurita. Mereka disebut sebagai Haenyeo (해녀).

download.jpeg

Dokumentasi oleh David Alan Harvey.

Peralatan yang mereka miliki juga tidak sembarangan, namun bukan berarti peralatan yang mereka pakai ada sangat banyak, karena satu hal yang paling penting bagi mereka adalah kemampuan mereka dalam bidang ini. Peralatan yang mereka biasa bawa adalah pemberat (yang diikatkan ke pinggang), pelampung (berwarna oranye) dan goggles (kacamata khusus untuk menyelam) dan jaring yang akan menampung tangkapan mereka nantinya.

Hal ini mungkin terdengar sangat mudah untuk dilakukan, namun sebenarnya tidak karena adanya arus yang cukup kuat di bawah air yang akan menyulitkan kita untuk tetap berada di bawah air. Selain itu, akan sulit juga untuk menahan badan kita untuk tetap berada di bawah air, maka itulah dibutuhkan pemberat yang akan menahan tubuh kita cukup lama di bawah air.

haenyeo

Dokumentasi milik The DIVE Bible

Yang lebih mengagumkannya lagi, dulu sebelum ditemukannya teknologi baju selam, para Haenyeo hanya dilapisi kain putih tipis, pemberat dan pelampung yang terbuat dari batok kelapa yang dikeringkan. Hal tersebut pasti menjadi lebih sulit bagi mereka karena suhu dingin yang dimiliki akan menusuk hingga ke tulang, ditambah lagi mereka melakukan hal ini hampir setiap hari dalam musim apapun karena kegiatan ini sudah menjadi mata pencaharian mereka. Sayangnya, seiring berubahnya zaman semakin sedikit perempuan yang mau menjadi Haenyeo, dan yang masih menjadi Haenyeo biasanya adalah wanita paruh baya atau lanjut usia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s