Arsip Bulanan: Januari 2017

Menarik, unik, asik plus menambah wawasan! Ada ya? Ada dongg…

Kemarin (26/1) kami satu kelas kedatangan tamu yang… unik. Namanya Kak Umbu. Dia, banyak traveling dan memiliki minat dalam bidang fotografi. Kebetulan, kemarin ini dia sedang ada di satu kota dengan kami. Aku tinggal di Bandung, otomatis ia ada di Bandung juga.

Awalnya, keadaan kelas cukup berisik. Tapi, seiring Kak Umbu masuk ke kelas semuanya jadi hening. Aku sendiri juga ikut hening karena aku cukup kaget melihat gaya berpakaian Ka Umbu yang bisa dibilang unik. Ia memakai baju bergambar wajah macan (sejenis macan mungkin), di kepalanya dililitkan ikat kepala yang bercorak indah juga. Katanya, ikat kepala tersebut melambangkan suatu budaya di kampung halamannya, Sumba. Kami mengobrol cukup banyak, tentang banyak hal juga. Ada tentang arti sebuah nama, salah satunya adalah nama Indira yang berarti biru, ada juga obrolan mengenai jati diri kita. Atau kekhasan diri kita yang bisa saja diubah setiap harinya, dan yang paling melekat dalam otakku adalah obrolan mengenai ‘out of comfort zone’ dan mengenai ilmu fotografi yang ia miliki.

Out of comfort zone adalah hal pertama yang ingin aku bahas, Kak Umbu bilang dengan keluar dari zona nyaman kita bisa menemukan jauh lebih banyak hal yang unik, menarik, bisa menambah wawasan dan bertemu dengan banyak orang baru. Namun, ia juga menegaskan bahwa bila kita keluar dari zona nyaman bukan berarti kita perlu tetap berada di luar zona nyaman. Bila kita membutuhkan zona nyaman tersebut, kita berhak untuk kembali. Seperti contohnya bila kita sedang memiliki masalah dan kita membutuhkan dukungan oran tua, kita bisa kembali ke rumah, bercerita mengenai masalah kita dan baru setelahnya kita bisa keluar lagi. Jadi intiya, bila kita membutuhkan zona nyaman, kita perlu kembali ke sana. Namun bila kita bisa tetap berada di luar zona nyaman, kita bisa terus berada di sana dan menghabiskan waktu bersama dengan budaya baru, orang baru, wawasan baru dan sekian banyak hal baru.

Hal kedua yang aku dapatkan dari Kak Umbu adalah mengenai fotografi, aku memang sedang tertarik dengan seni yang satu ini (walaupun aku terkadang masih suka malas untuk mencari tahu lebih banyak lagi hal ini), dan aku juga masih terhitung baru atau beginner dalam bidang ini. Ilmu yang aku dapatkan dari Kak Umbu ada banyakkkkk sekali, ia bilang bahwa fotografi itu bukan hanya mengenai memotret satu objek lalu pergi begitu kita puas dengan hasilnya. Fotografi itu jauh lebih baik dan dalam daripada itu, di dalam fotografi kita harus berada di dalam situasinya. Merasa dengan benar apa yang sedang terjadi, berada di ‘dalam’ situasi tersebut. Baru setelahnya kita memotret, secara terus menerus hingga kita mendapatkan hasil yang memuaskan. Memuaskan dalam artian bahwa kita juga bisa merasakan kembali momen tersebut dari sebuah jepretan, setelah kita keluar dari tempat tersebut.

Selain mengajarkan kami banyak hal mengenai ilmu fotografi, ia juga memperlihatkan banyak foto-foto hasil jepretannya dari berbagai tempat. Ada yang dari kampung halamannya, ada yang dari Bali ada yang dari Jogja dan dari sekian banyak tempat yang sudah ia kunjungi. Hasil-hasil foto miliknya ada yang menyentuh hatiku, ada seorang ibu yang sedang menggendong bayinya, atau seorang nenek yang sedang berjualan. Momen yang ia ingin abadikan, benar-benar berhasil. Aku merasakan lelah yang dirasakan nenek tersebut, atau justru cinta yang disalurkan dalam pelukan seorang ibu ke anaknya. Indah sekali. Lalu aku pun berfikir, kapan ya aku bisa memotret sepertinya? Kita lihat saja nanti, bagaimana hasil fotoku nanti.

Selain cerita-cerita unik yang ia sampaikan, ada satu yang aku lewatkan. Tahukah kalian arti nama Kak Umbu? Di kampung halamannya, Umbu memiliki arti anak lelaki. Lucu ya?

Iklan

Indonesia is one.

From a few months ago, all of us knew that there are more politics issues in Indonesia. Especially in Jakarta. Lots and lots of love, hate and anger are shared in our capital city, Jakarta. I, live in Bandung but I also know some of the news about Indonesia. Honestly, I don’t really like to read news about politics. I love reading fiction book more than I love reading new. But in the end, I have to know about the news and what is happening in my own country. So then I started to read an article about the most famous ‘thing’ in Jakarta recently.

Again, the news was about Ahok. Jakarta’s last governor. The article says about Ahok’s court that has been refused. Obviously, the main ideas of this article is about how Ahok has been accused. And he has to be in a few court. This court is talking about is he going be in jail or actually it’s only a sensation from some people.

I choose this article because this news has been the most famous and it is the most crazy-unbelievable thing in social media. It’s like a thing that we could find in social media almost every time. So then I decided to read more about this issue.

The only thing that I learn about Java after reading this article is that Indonesian people (that most of them lives in Java ) can believe in something without knowing the truth. Before this issue start, Ahok gave a speech to some people in Thousand Island. He says a sentence that is quite sensitive and all of this happens. I think that we could learn something from this issue. That we should believe in something that is trusted, and we know the truth.

I do have a lot of thoughts from this issues. Especially from the article, I have a thought. Why do they change the witness that easily? In the article, it says that from 6 witness, 3 of them can’t came. But then weirdly, there are 2 new witnesses that came. And by that, Ahok’s lawyer postponed the court until January 24th. For me, this crazy-unbelievable news is nonsense. Yes, he does quote a sentence from Al- Qur’an. But what I think is actually it’s a way to lowers his position as a governor in Jakarta. And again, I admit it that what I think is not the same as what the other think. But I guess, we can at least think clearly and make sure some or a news, before we believe in it. So, that is what I think about this issue, once again I admit it that our thoughts are not the same. Every person has their own thoughts, just like me.

 

There are five difficult words that I find in this article, here it is;

 

Blasphemy – Pemfitnahan

Alleged – Dugaan

Summoned – Dipanggil

Presiding – Memimpin

Prevailing – Umum

 

Ekspresi diri

Selama ini aku seringkali memerhatikan watak dan rupa orang-orang di sekitarku. Apa yang mereka rasakan atau apa yang sedang mereka pikirkan biasanya terpancar di raut muka masing-masing orang. Bila senang, orang itu biasanya akan tersenyum lebar. Namun ada juga yang menyembunyikan kesenangannya dengan cara memasang muka biasa saja. Namun kebahagiaan itu tetap dapat terlihat dari pancaran matanya yang bahagia. Sama seperti bila mereka sedang bahagia, kesedihan juga bisa terpancar dari raut wajah atau dari mata sang pemilik. Mata mereka akan terlihat sayu dan redup. Kesedihan juga bisa terlihat dari wajah orang tersebut dari sesering apa ia tersenyum atau tertawa. Lain lagi bila orang itu sedang marah, biasanya orang marah akan ‘mengamuk’ dengan caranya masing-masing. Ada yang membanting barang, ada yang diam ada juga yang teriak teriak, bahkan ada yang menyakiti diri sendiri. Bila sedang marah, sorot mata yang dipancarkan oleh orang tersebut biasanya tajam dan menyala-nyala karena kemarahannya. Ekspresi semangat juga tak bisa di sama ratakan dengan ekspresi lainnya. Bila sedang semangat, biasanya orang itu akan memancarkan sorot mata yang berbinar-binar dan bahagia karena adrenalin nya terpacu.

Namun, apakah ekspresi itu memancarkan apa yang dirasakan oleh orang itu? Menurutku belum tentu. Banyak orang yang menyimpan perasaan yang sebenarnya dan menunjukkan ekspresi lain, berharap orang-orang disekitarnya melihat bahwa ia sedang bahagia. Sebenarnya bila kita itu peka terhadap lingkungan sekitar kita, kita bisa merasakan rasa sebenarnya yang ada dalam diri orang itu. Karena tanpa kita ketahui, beberapa orang lebih memilih untuk menyembunyikan rasa yang dia rasa daripada memerlihatkannya kepada orang-orang disekitarnya.

 

Tulisan di atas adalah salah satu dari sekian banyak ide-ide tulisan yang aku miliki di dalam kepalaku. Akhir-akhir ini aku sedang senang untuk menulis apapun yang ada di dalam kepalaku. Entah itu aku menulisnya di dalam kepalaku atau aku menulisnya di memo hape. Beberapa tulisanku sudah aku taruh di blogku. Biasanya, aku menulis bila aku sedang mendapatkan ide dan sedang bisa menulis dengan lancar. Nah, menurutmu bagaimana tulisanku ini?

Google tahu segalanya, bahkan profile pacarku aja ada :p

Libur libur libur!!! Semua anak, hampir semua anak yang masih bersekolah pastinya senang dengan apa yang namanya liburan. Bagiku, liburan adalah saat di mana kami, para murid, dapat ‘meregangkan’ tubuh dan otak kami dari segala macam aktivitas sekolah yang berat. Tapi, bagaimana rasanya jika di dalam liburan itu ada pekerjaan rumah? Rasanya, jujur aja nih ya, males… Namun, kali ini kakak membuat pekerjaan rumah yang diberikan kepada kami sedikit lebih menarik. Yaitu kami diminta untuk menggali lebih dalam lagi minat kami masing-masing yang tentunya berbeda-beda.

Dari segala minat yang aku miliki, aku memilih minat memasak-ku. Aku mau menggali lebih dalam lagi minat memasak-ku ini karena dari dulu aku selalu ingin menjadi seorang chef dessert yang baik, dan tentunya dikenal dengan baik di kalangan banyak orang. untuk menggali dan mengasah kemampuanku dalam bidang memasak, aku memilih untuk memasak salah satu dari sekian banyak resep dessert yang aku ketahui. Makanan ini adalah makanan yang aku sukaaaaa, namun aku belum pernah membuatnya. Makanya, aku penasaran cara membuatnya.

Makanannya adalah… jeng jeng jeng *dumrolls* KUE SUS! Nah, tapi apa hubungannya topikku dengan judulnya? Hmm, apakah ada yang bilang kalau aku sudah tahu resep dari kue sus yang akan aku buat? Nope, aku dan mama ( yang bantuin aku bikin ) bener-bener nggak tahu menahu tentang resepnya. Nah, ini nih disaat dimana Google bekerja.

Tanpa Google, aku nggak akan tahu apa resepnya. Otomatis tanpa Google aku nggak akan bisa buat kue ini. Karena teknologi itu sekarang sudah maju, jadilah aku mendapatkan resep yang pas. Ini dia resepnya:

BAHAN KUE :

125 gr mentega putih

150 gr tepung terigu

250 ml air biasa

4 butir telur besar

 

BAHAN VLA SUSU :

500 ml susu

50 gr gula pasir

3 sendok makan maizena

 

ALAT :

Panci kecil

Spatula kayu

Mixer

Loyang

Oven

Piping bag

 

CARA :

  1. Masukkan mentega dan air ke dalam panci lalu didihkan. Biarkan mentega meleleh sepenuhnya dan pastikan air mendidih,
  2. Bila air sudah mendidih, masukkan tepung terigu perlahan-lahan sambil terus diaduk dengan spatula kayu. Setelah adonan tercampur rata, sisihkan dan biarkan mendingin.
  3. Bila adonan sudah mulai mendingin, siapkan mixer dan pecahkan telur di mangkuk yang berbeda.
  4. Nyalakan mixer dalam kecepatan rendah, lalu kocok adonannya sebentar agar adonan menjadi gumpalan kecil.
  5. Masukkan telur satu persatu sambil terus dikocok. Setelah telur terakhir masuk, naikkan kecepatan mixer satu atau dua angka diatasnya. Bila sudah dalam tekstur yang tepat, matikan mixer.
  6. Masukkan adonan dalam piping bag lalu oleskan mentega biasa ke loyang agar kue tak menempel. Oven juga sudah bisa mulai dipanaskan.
  7. Gunting sedikit ujung piping bag sesuai selera, lalu mulai bentuk kue sesuai dengan keinginan.
  8. Masukkan loyang yang sudah penuh, tunggu hingga kue sudah matang. Berwarna kuning kecoklatan

Sambil menunggu kuenya matang, kita bisa membuat vlanya.

CARA :

  1. Masukkan susu dan gula ke panci lalu terus diaduk hingga mendidih.
  2. Masukkan larutan maizena ke dalam susu yang mendidih, semakin banyak maizena semakin kental vlanya.

Nah, kalau kue sudah jadi tinggal masukkan vla ke dalamnya. Dan kue pun siap dimakan! Ini adalah kegiatan yang aku lakukan untuk menggali minat memasakku. Resep diatas boleh dibuat kok. Selamat mencoba!