Berkunjung untuk bermain itu asik lho!

Di Bandung, ada banyak sekolah. Sekolah swasta, negeri dan sekolah luar biasa. Ada sekolah di pelosok dan favorit di kota. Kebetulan, di tanggal 19 September 2016 ada sekelompok anak kelas 8 (SMP 2) yang berkunjung ke sekolah tetangga. Mereka adalah aku dan teman-temanku. Kita berasal dari sekolah Semi Palar. Nah, di dekat sekolah kami (50 – 70 meter jaraknya), ada satu sekolah yang bernama SD Caringin. Tema obrolanku hari ini masih sama dengan post terakhirku, yaitu tentang board game ( Cerita lengkap tentang boardgame bisa di lihat di post “Siapa yang mau main?! Gabung sama kita yuk!”). Kali ini aku akan mencaritakan pengalamanku berbagi game dengan adik-adik dari SD Caringin.

Kami memulai hari dengan menyiapkan boardgame milik kami masing-masing. Kata ‘menyiapkan’ ini berarti kami menyelesaikan apa yang belum selesai, namun belum finalisasi. Untuk kelompokku, kami hanya menyelesaikan mengecat box dan merapihkan guntingan kartu. Setelah semua pekerjaan selesai kami kerjakan, KAMI BERANGKAT! Seperti yang kubilan, sekolah kami bertetanggaan, jalan ke SD Caringinnya pun nggak sampe 5 menit kok! Sampai disana kita bersalaman dengan ibu kepala sekolahnya. Katanya, langsung saja kita ke lorong kelas 4, biar bisa langsung main.

Baru kita duduk sebentar, tiba-tiba “KAKAK AKU MAU MAIN!!!”, segerombolan anak-anak kelas 4 mendatangi kami sampai-sampai kami harus membujuk mereka untuk pindah ke kelompok yang duduk di sebelah kami. Pas ditanya ” Siapa yang mau main?!”, dengan wajah antusias dan gembira, mereka berteriak “AKU!” sembari mengacungkan tangannya tinggi tinggi. Karena ada terlalu banyak anak-anak yang mau main, akhirnya kami meminta mereka untuk membagi rata semua anggota yang mau main jadi 6 kelompok ( karena pemainnya cuma bisa 6 ).

Karena kelompokku anggotanya 4 orang, jadi kita membagi shift menjelaskan boardgamenya. Tap ternyata, nggak kerasa waktu main sama kelas 4 itu udah abis! Jadi kita harus menyelesaikan game di ronde itu dan pindah ke lorong kelas 5.Sambil menunggu kelas 5 siap, nggak disangka ada anak-anak kelas empat yang meminta tanda tangan kita. Lucu ya! Setelah kelas 5 siap, kita pindah ke kelas 6 dan main lagi.

Leganya, tanggapan dari anak-anak disana sangat positif. Mereka sangat senang ketika diberi tahu kalau timmnya tinggal satu step lagi lalu mereka bisa menang. Daya olah mereka untuk mengerti cara bermain sangat cepat menurutku. Walaupun memang setiap jenjang jangka waktu untuk memahaminya berbeda, namun waktu mereka terhitung cepat untukku. Perbedaan yang aku rasakan pun cukup kontras, saat aku bersama kelas 4, mereka masih terlihat seperti anak kecil dan masih butuh dampingan beberapa saat. Untuk kelas lima, beberapa saja yang membutuhkan dampingan. Nah, enaknya untuk kelas 6 kita tak perlu mendampingi mereka lagi. Hanya terkadang mereka bertanya tentang beberapa hal.

Secara visual, sekolah Caringin memang berbeda dengan Semi Palar. Mereka punya lorong untuk setiap jenjang. Dan kelasnya pararel, sementara di Smipa tidak. Lalu secara cara pembelajaran, mereka belajar menggunakan buku cetak, sementara kami belajar sesuai apa yang kakak (guru) jelaskan.

Setelah kami berpamitan dengan guru dan anak-anak. Kami pulang, lucunya ada yang mengantar kami pulang sampai ke gerbang depan sekolah! Asiknya hari ini!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s