Arsip Bulanan: April 2016

My first story at Storybird

messageImage_1462842957687https://storybird.com/books/r-skate-sibling/?token=vf5qyyczk9

This is my first story at storybird. Enjoy.

Iklan

Changes

55012

Now in Bandung, there are a lot of developments. But sometimes the development gives bad influence. maybe there is a good impact on development, but I think there is more bad impact than the good one. So what should we do? Here’s what i think we should do.

This picture is about changes or development. In the first picture, we can see that the area is full of trees. but the last picture shows an area with no trees at all. So if you see the picture in order, something changes in every picture.

As you know, a few weeks a go.  My friends and I went to Babakan Ranca village. For me, the situation there is  like the picture on number 5. but there is an area  where the situation is like on number 4. It will be amazing if Bandung could be back like number 4 or 5 again. Well i don’t have to tell you anymore right? Bandung is definitely in number 12.

For me, the ideal situation for people to live in is on number 8. There are trees, modern buildings, transport, and other facilities. But what should we do to make Bandung return to the situation in number 8?

We don’t need to do big things. A small move will also help Bandung to come back to the right situation. We can start from growing trees at the backyard of our own house. Or maybe start saving papers. Remember, small things also make changes. It can be good changes, or bad changes.

 

Hari-Hariku di Babakan Ranca

Hari pertama

Sekitar jam setengah lima pagi, aku bangun.  Bukan karena aku sangat semangat untuk pergi Nyaba  Lembur, tapi kebetulan Ray juga sedang menjalankan Try Out. Dia harus sampai di SMP 12 jam setengah tujuh. Kalau dilihat dari jarak yang akan kami tempuh dari rumah sampai ke SMP 12, hal itu akan memakan waktu sekitar 20-30 menit (Lancar dan masih pagi). Tak lama setelah aku siap, kami sekeluarga  berangkat. Aku juga sudah makan sarapan yang cukup, seperti yang kakak minta. Setelah mengantar Ray, kami bertiga berangkat ke sekolah. Di kelas jelas masih sepi. Mama juga sempat membantuku untuk menaruh sleeping bag dalam posisi yang gampang dan nyaman. Selagi menunggu teman-teman yang lain datang, aku membaca buku yang adadi lokerku. Kebetulan aku memang menaruh dua buku novel di dalam loker. Jam 7.20 semua anak sudah berkumpul. Ada Kak Andy dan Kak Danti yang ikut berdoa bersama kami. Rencana awal kami memang akan berangkat jam 7.30, namun karena kami menunggu angkot datang maka akhirnya kami berangkat jam 8.00. Kelompok angkot sudah ditentukan oleh kakak, kelompok satu (didampingi Kak Steva dan Kak Wienny) adalah Hana, Bening, Carenza, Reza, Fathan, Arga, Fey. Sementara kelompok dua (didampingi Kak Koben) adalah Indira, Niwa, Tyogo, Raven, Fauzan, Toby, Steffany dan aku.

Kami menikmati perjalanan dengan mengobrol, makan dan bercanda ria. Waktu yang kami habiskan di jalan sekitar 3 jam. Memang cukup lama, namun karena aku sedang bersama dengan teman-teman, aku tidak merasa  bosan. Kami main semacam ‘nyetir angkot’. Kakak sempat merekam disaat kami main. Kakak juga sering kali memotret kegiatan kami di dalam angkot. Disaat udaranya sudah mulai dingin, aku membuka jendela dan menikmati hawa yang dingin. Memang terkadang ada bau tidak sedap, namun hawa yang dingin tersebut justru aku nikmati. Makin lama ada beberapa teman yang mulai diam. Entah itu karena mengantuk atau bosan. Namun ada juga beberapa teman yang mual, seperti Niwa, Steff dan Iin. Ada juga yang kebelet pipis (Obi). Namun disaat yang lain bosan, mual dan kebelet pipis , aku justru lapar. Tak lama dari situ kami masuk ke pintu Desa Tarumajaya, awalnya yang aku lihat adalah kebun teh yang sangat luas. Tapi kerennya justru kebun teh itu rata. Ditambah lagi dengan udara yang sejuk dan dingin. Kami juga hening, ya karena ada yang mual dan bosan. Aku suka disaat-saat seperti itu. Hening, hawa dingin dan sejuk, ditambah lagi pemandangan yang indah. Jalan di sekitar kebun teh tersebut memang kurang baik, jalannya banyak yang anjlok dan becek.

Kami sampai ditujuan jam 11.00, lalu kami foto terlebih dahulu. Setelahnya baru kami jalan sedikit ke dalam kampung Babakan Ranca. Cukup jauh bila ditempuh seorang diri, tapi karena bersama dengan teman-teman, jalannya  jadi nggak terasa. Di tengah perjalanan menuju ke kampung, ada beberapa anjing yang lewat. Temanku Hana, takut dengan anjing, karena itu ia langsung mencengkram lengan bajuku dan jalan di sebelahku. Yang aku dengar dari anak-anak kelompok Malabar memang ada banyak anjing disana. Tahun lalu mereka ke kampung ini.

Sampainya di tempat tujuan, kami naik ke sebuah rumah kayu yang disediakan untuk kami. Kami juga disuguhkan teh hangat. Tapi ternyata, tak lama setelah kami naik ke rumah kayu, hujan turun! Akhirnya kami diam di rumah pohon sekitar beberapa belas (atau puluh, nggak tau aku asyik mengobrol) menit terlebih dahulu sampai akhirnya sudah waktunya kami untuk pergi ke rumah masing-masing.  Karena masih hujan jadinya kakak menyuruh kami untuk memakai jas hujan atau payung. Kakak mengantar yang perempuan terlebih dahulu. Ternyata rumah yang perempuan berdekatan, berjejer. Setelah itu baru kakak mengantar yang laki-laki.

IMG_9120

Masuk ke rumah yang ditinggali oleh keluarga Pak Asep, kami menyapa orang disana terlebih dahulu. Lalu kami disuruh ke atas untuk menaruh barang. Kami juga bercengrama dengan keluarganya. Lalu aku dan Iin membantu ibu (Bu Erni) untuk memasak. Awalnya ibu tidak mau kami bantu. Tapi setelah mengobrol akhirnya kami diperbolehkan untuk membantu  juga. Ternyata keluarga tersebut terdiri dari 5 anggota keluarga, ada ibu Erni, Pak Asep, Riko (anak pertama),Naviska (anak kedua) dan Novisya (anak ketiga).

Kami membantu ibu memotong dan mencuci sayur keciwis, lucunya saat aku dan Iin mencuci keciwisnya tuh riweuh, kami sempat tertawa sebelum mencuci keciwisnya. Sesudah itu aku juga membantu memotong kentang. Sehabis memotong kentang, aku mengobrol dengan pak Asep dan saudara mereka, Neva. Karena Pak Asep harus kembali lagi bekerja, maka ia pamit. Kami bertigapun mengamati atau justru lebih ke melihat Naviska dan Neva main bekel. Mereka main bekelnya jago banget! Bahkan aku pun tidak bisa main bekel sehebat mereka. Saat itu Naviska juga masih malu-malu untuk mengobrol dengan kami. Jika kami bilang ‘hai’ ke dia, yang ada dia malahan bersembunyi di balik kerudungnya. Neva juga masih belum bisa mengobrol  lancar dengan kami. Setelah melihat Naviska dan Neva bermain, kami disuruh makan. Menunya adalah keciwis, kentang goreng dan nasi. Setelah makan, kami lebih banyak ikut menonton bersama, lalu kami mandi air dingin (sebelum mandi minum tolak angin dulu) lalu berkumpul lagi di base camp (rumah kayu) jam setengah 4.

Ternyata kakak memberikan kami tiga buah tantangan, cukup gampang namun dibutuhkan keberanian untuk mengobrol. Tantangannya adalah mengenal jauh lebih dekat lagi keluarga angkat kami, tetangga kami dan sejarah atau tentang desa tersebut. Karena masih baru disana, kami juga masih sedikit malu, jadi kami bersama-sama (rombongan) mengobrolnya. Awalnya kami pergi ke rumahku, lalu kami pergi ke rumah yang di tinggali oleh kelompok Reza. Karena waktu yang kakak berikan ke kami untuk mengerjakan tantangan tersebut cukup lama, jadi kami punya banyak waktu luang. Hana dan Steffany juga ikut mandi di rumahku. Setelah aku dan Hana menuntaskan tantangan, kami bingung harus pergi kemana. Beberapa teman tidak kami ketahui sedang berada dimana. Akhirnya aku dan Hana memutuskan untuk pergi ke base camp. Kan setidaknya di base camp ada kakak, namun ternyata saat kami sampai di base camp, ada beberapa teman yang sedang mengobrol disana. Ada Fey, Steff, Raven dan Carenza. Tentunya ada kakak di sana. Akhirnya aku dan Hana ikut mengobrol bersama kakak disana. Saat sudah waktunya kami berkumpul lagi di base camp, kami menunggu teman-teman datang. Setelah semua teman-teman berkumpul di base camp, kakak mengobrol dengan kami sebentar. Tantangan juga kakak lihat terlebih dahulu. Setelah itu kami pulang kerumah, makan malam. Menu makan malam kami adalah kentang goreng, sayur dan nasi, lalu kami beristirahat. Iin dan Carenza bilang sih aku ngorok, mungkin karena aku capek, hihihi…

 

HARI KEDUA

Tidak terasa kami sudah ada di kampung Babakan Ranca selama satu hari. Di hari kedua ini, aku bangun jam 5.00, itu juga tidak bangun sendiri. Memang biasanya aku bangun memakai alarm.Aku bangun setelah Iin menepuk kakiku beberapa kali.Sesudah bangun, aku mengumpulkan kesadaran terlebih dahulu.Setelah beberapa menit aku benar-benar bangun, baru kami bertiga mengobrol.Ternyata Iin dan Carenza pilek, untungnya aku tidak.Mungkin saja mereka kena pilek karena dingin, atau memang sudah mulai tidak enak badan dari hari hari sebelumnya. Jam 5.30, baru kami turun ke bawah. Sampainya di bawah, aku langsung menyapa ‘Selamat Pagi’ ke keluarga angkatku disana.Saat kulihat, belum semua anggota keluarganya bangun.Baru ada ibu, Naviska, Riko dan Neva yang sedang memasak di dapur.Terlihat kalau Naviska, Riko dan Neva baru saja selesai mandi.Mereka juga sedang membantu ibu memasak bala-bala untuk sarapan. Disebelah Riko yang sedang menumbuk kentang ada Neva yang sedang menghangatkan diri dengan api yang dinyalakan di tungku. Tak lama ibu bilang ke Riko “Lampunya udah dinyalain?”. Aku pikir ibu menyuruh Riko untuk menyalakan lampu depan halaman, tapi ternyata lampu itu dipakai untuk kami menghangatkan tubuh. Saat aku ingin membantu ibu memasak, ibu bilang “Nanti saja, kalian menghangatkan diri dulu di lampu gih.”

Kami menghangatkan tubuh di depan lampu. Awalnya tidak terasa apa-apa, tapi lama kelamaan kaki kami menjadi hangat.Saat kami sedang menghangatkan tubuh, ada suara yang mengagetkanku.Ternyata bapak sedang baringan di kamarnya.Letak kamarnya itu ada tepat di belakang kami. Aku tidak melihat bapak di kamar karena sebelumnya ia membungkus dirinya dengan selimut. Bapak bertanya “Dingin ya?” aku pun jawab “Eh, iya pak”. Posisi kami juga tepat di depantelevisi. Di bawah televisi itu ada lemari yang dilengkapi dengan kaca tembus pandang.Saat lampu dinyalakan, aku bisa melihat adanya pantulan gambar di kaca tersebut.Gambarnya berupa kaki Iin dan separuh badannya yang disinari lampu berwarna kuning. Saat itu aku benar benar ingin memotret pantulan itu, tapi aku ingat apa yang kakak bilang “Coba kalian memotret dengan mata kalian.”. Kakak bilang aku akan jauh lebih ingat gambarnya, daripada aku memotretnya dulu. Karena itu aku terus menerus melihat ke pantulan itu.Dan sampai sekarang aku masih bisa ingat gambar pantulan itu.

Setelah menghangatkan diri dengan lampu, aku pergi ke dapur dan mulai membantu ibu dengan mengupas kentang kecil yang sudah dikukus.Saat aku mulai membantu, entah kenapa Riko langsung pergi dan mulai siap-siap. Entah karena ia pikir sudah ada yang menggantikannya atau karena ia malu. Iin juga menggantikan Naviska yang menghaluskan kentang kukus itu.Kan mau dibuat perkedel kentang.Saat aku sedang mengupas kentang, Hana dan Steff mengetuk pintu lalu ijin untuk ikut mandi disana.Aku masih sedikit kedinginan sementara mereka sudah mau mandi?Beneran?Tapi setelah mereka mandi, kami bertiga bergilir mandi.Seusai aku mandi, Naviska dan Neva pamit ke sekolah.Mereka salim lalu pergi.Tak lama setelah itu, ibu memanggil kami untuk makan sarapan.Menunya ada bala-bala, perkedel kentang, sayur, kentang goreng, telur dadar dan nasi.Banyak deh, makanya kenyang.Seusai makan, kami bertiga mencuci piring masing-masing.Lalu kami bilang ke ibu, “Bu kita hari ini mau ikut ibu ke kebun ya? Kita mau ikut kegiatan sama ibu. Kegiatan kita hari ini ikut ibu kerja.”.ibunya menjawab “Iya, nanti ya jam 8”. Kita akhirnya memutuskan untuk menunggu ibu selesai beres-beres. Kalo kita nanya ke ibu apa yang bisa dibantu, dia pasti jawabnya nggak usah. Ya udah, kita nunggu ibu selesai aja. Tapi ternyata jam 8.15, ibu masih belum selesai juga. Karena bosan menunggu, akhirnya kita memutuskan untuk pergi keluar dan mengerjakan tantangan yang lain terlebih dahulu.

Diluar, kita berpisah karena kelompok kerja kami berbeda-beda. Aku satu kelompok kerja dengan Fey dan Raven, kebetulan mereka juga serumah. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke rumah mereka dulu.Benar saja, mereka ada disana. Lucunya, di halaman rumah keluarga angkat mereka itu ada banyak ayam, jadi sebisa mungkin setiap orang yang masuk ke sana tidak membawa ayamnya ikut masuk juga, awalnya susah karena ayam-ayamnya malah mengikuti kemana aku bejalan. Tapi setelah kucoba usir menggunakan papan dada, ternyata berhasil! Ayamnya pergi.Saat aku masuk ke rumah, Fey dan Raven sedang mengerjakan beberapa tugas yang kakak berikan kepada kami. Aku memutuskan untuk membuat denah kampung.Sebelumnya, kami mengobrol di kamar Fey dulu. Setelah puas mengobrol, kami (Steff, Carenza, Fey dan aku) memutuskan untuk jalan ke tempat dimana kami diturunkan dari angkot.

Kami menyusuri jalan-jalan di kampung, beberapa kali kami ragu untuk jalan.Karena kami sebenarnya lupa arah jalan menuju ke tempat dimana kami diturunkan.Bahkan beberapa dari kami merasa kelelahan.Akhirnya kami memutuskan untuk bertanya ke seorang bapak-bapak yang sedang bekerja disana.Kami mengobrol cukup lama karena bapak-bapak yang kami tanyai bingung dengan kegiatan yang sedang kami lakukan.Salah satu dari mereka justru mengira kalau kami adalah sensus.Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi ke rumah Fey.Setelah kami sampai ke rumah Fey, aku memutuskan untuk ke rumah Reza. Mungkin saja di sana ada banyak orang.

Di rumah Reza, ternyata ada 2 kelompok yang sedang mengobrol.Ada kelompok Hana dan kelompok Iin.Kebetulan pemilik rumahnya sedang tidak ada disana, jadi kami mengobrol dengan sedikit leluasa.Sempat bosan sebenarnya, tapi ya mau bagaimana lagi. Kami capek dan bingung mau ngapain. Tapi tak lama setelah itu, kakak memanggil kami dan mengajak kami untuk ke kebun.Aku dan Iin pulang dulu ke rumah dan mengganti sepatu kami.Baru kami ke kebun.

Jalannya memang lumpur basah dan agak ngebelesek.Licin dan dingin.Warnanya juga coklat kehitaman.Masuk sedalam atas mata kaki.Sempat beberapa kali aku hampir terpeleset namun masih bisa menjaga keseimbangan.Sampainya di ujung, aku memilih untuk lompat dan melihat-lihat kegiatan orang-orang disana.Ada yang sedang istirahat, membajak, memanen dan ada juga yang sedang menaruh bibit.Tapi entah dari mana, saat aku melanjutkan jalan di jalan yang berlumpur ada niatan jahil yang muncul dalam kepalaku.Kebetulan aku melewati Kak Steva.Aku melihat kaki Kak Steva masih sedikit bersih.Jadilah aku memeperkar kaki kotor penuh lumpurku ke kaki kak Steva.Tapi ternyata disaat aku menapak di lumpur lagi, aku jatuh.Celana dan bajuku kotor penuh lumpur deh. Kak Steva, Hana dan aku pun tertawa. Setelah itu, aku mulai melanjutkan jalan ke yang lebih jauh. Aku ingin lihat di sana ada tanaman apa saja yang sedang ditanam.

IMG_9154

Kami tidak jalan bersama-sama satu rombongan.Kakak membiarkan kami untuk bereksplorasi sendiri, ada yang berdua, bertiga bahkan ada yang berenam.Aku jalan menelusuri kebun dengan Hana.Kami jalan cukup jauh. Tidak terpikirkan olehku kalau nantinya kulitku akan menjadi tambah hitam. Tak terpikirkan dan tak peduli sih, yang penting asik. Jalan di sekitar tanaman sebenarnya sangat enak untuk dipijak.Tanahnya yang hangat dan lembek tapi kering.Aku dan Hana sempat berlari-lari di tanah yang hangat itu.Sayangnya Hana tidak jatuh.Maunya sih aku jatuhin, tapi kasian.Takut ikut jatuh lagi. Beberapa kali aku menyapa petani dan mereka menjawab dengan anggukan dan sekalian bertanya “Jatuh ya neng?” dan aku menjawabnya dengan cengiran yang lebar “Iya nih bu.. hehehe”. Sementara Hana dibelakangku hanya bisa tersenyum menahan tawa.

Beberapa kali Hana ingin jalan lebih jauh lagi. Tapi akunya yang lagi capek dan Hananya yang tidak mau jalan sendiri ke sana karena takut ketemu sama anjing. Dia ingin aku ada sama dia, jadi kalau ketemu sama anjing dia bisa berlindung dibelakangku. Tapi akhirnya kami jalan cukup jauh dan tidak bertemu dengan anjing satu pun.Saat kami jalan balik lagi, kami melihat Iin, Niwa, Bening, Fathan, Reza dan Toby sedang membantu orang-orang memanen daun bawang.Beberapa petani daun bawang sempat mengira aku dan Hana adalah gurunya.Kami awalnya ingin ikut serta membantu memanen bawang daun, namun akhirnya tidak jadi. Kami masih berjalan-jalan kesana kemari sampai akhirnya kami balik ke base camp dan cuci kaki.

Di base camp kakak baru saja mau makan, kak Koben yang tidak tahu kalau aku jatuh bertanya “Ngapain kamu teh? Sampai kotor gitu?” dijawab “Hehe, jatoh.”.Lalu aku cuci kaki dan Kak Wienny menceritakan bagaimana aku jatuh saat mau menjahili Kak Steva ke Kak Koben.Setelah aku mencuci kaki, ternyata Hana sesek. Dia bilang mau menunggu yang lain dulu baru ke rumah. Jadi aku memutuskan untuk balik ke rumah lalu ganti baju.Di rumah tidak ada siapa-siapa, kunci rumah aku minta dari ibu yang sedang bekerja di kebun.Katanya nanti Naviska dan Neva datang.Benar saja, tak lama setelah aku membuka pintu rumah, mereka datang.Kuncinya sempat menyangkut di lubang kunci, tapi Naviska bisa mengeluarkannya.Aku naik ke atas, mengambil baju lalu aku ganti baju.Setelah ganti baju aku langsung mecuci baju yang kotor. Kalau tidak dicuci langsung maka kotorannya akan menempel dan membekas. Mencucinya agak susah karena tanahnya sudah agak kering. Air cuciannya menjadi bau, kotor dan berwarna coklat.Aku mengucek baju itu beberapa kali.Sesudah mencuci baju dan bajunya aku jemur di atas, aku pergi ke rumah Reza untuk mengambil gambar denah yang aku tinggalkan disana. Ternyata di sana sudah ada Hana, Niwa, Reza, Bening, Iin dan Toby. Disana kami cerita-cerita. Katanya Niwa dan Toby  kakinya masuk ke dalan kotoran sapi, sampai ke betis. Saat kami sedang mengobrol bersama, kami ingat bahwa kami harus berkumpul lagi di rumah kayu jam 3 sore. Maka kami pun ke sana bersama-sama. Sampainya disana kami mengummpulkan tantangan yang sudah kami tuntaskan dan menulis sedikit refleksi.

Setelah kami selesai menulis refleksi, kakak bilang kalau kami akan mengobrol dengan Kang Uus. Selagi kakak memanggil Kang Uus di bawah, kami memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang akan kami tanyakan ke Kangg Uus. Saat Kang Uus sudah bergabung dengan lingkaran kami, aku masih belum tau apa yang akan ditanyakan kepada Kang Uus. Jujur aku takut nantinya kami jauh lebih banyak diam dibandingkan mengobrolnya.Tapi untungnya Kang Uus bisa membawa kami ke dalam obrolan yang bagiku menyenangkan.Tapi tidak semua orang sangat tertarik (sepertiku) dalam pebicaraan ini, buktinya aku melihat Hana yang kebetulan duduk disebelahku mengantuk. Carenza juga bercerita kepadaku kalau ia sebenarnya mengantuk sekali, sampai-sampai kakak menyuruhnya untuk ke bawah dan cuci muka dulu.

IMG_9195

Obrolan bersama Kang Uus sebenarnya sangat menarik untukku, memang aku kesal dan sedih saat mendengar cerita dari Kang Uus.Namun topik ini benar-benar menarik untukku. Awalnya Kang Uus memperkenalkan diri, lalu ia mulai bercerita tentang Desa Tarumajaya. Mulai dari perbatasannya sampai ke ekonomi masyarakat disana.Hal tentang desa itu yang paling membuatku kesal dan sedih adalah banyaknya lahan yang diambil oleh PTPN dan perhutani.Dari situ aku bisa lihat kalau warga mendapatkan lahan sangat sedikit.Bahkan tempat dimana aku dan teman-teman tinggali bukanlah milik masyarakat.Ilegal?Iya, tapi mau bagaimana lagi?Obrolannya panjang, kami juga sempat membicarakan tentang Bandung. Kang Uus bilang, kalau misalnya pohon-pohon di gunung terus ditebas, maka jika hujan air akan turun ke kota, bisa-bisa Bandung balik lagi menjadi danau. Aku tidak tahu berapa lama kami mengobrol dengan Kang Uus.

Karena waktunya sudah habis, maka Kang Uus pamit untuk kebawah.Kang Uus juga masih punya beberapa pekejakan yang belum dikerjakan sepertinya. Kakak bilang kalau nanti kita akan berkumpul lagi jam setengah delapan makan, sudah mandi dan tuga sudah selesai. Kakak menambahkan tantangan untuk kami. Kakak bilang, coba tulis lagi apa yang Kang Uus dan kamu bicarakan tadi. Kami bubar dan aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.Hana bilang dia mau ikut mandi di rumahku lagi.Jadi aku menemaninya ke rumah dia dulu, mengambil pakaian dan perlengkapan mandi.Pas kita sudah sampai di rumah, Carenza sudah mendahului kami mandi. Setelah ia mandi, aku mandi lalu Hana. Selesai Hana mandi, aku dan dia pergi ke teras tingkat dua. Dari sana kami berdua bisa melihat gunung Papandayan. Hana bilang “Besok pagi ajak kita kesini ya?Mau lihat sunrise.”Aku hanya mengangguk. Saat sedang melihat-lihat, kami melihat Zidan (Adek angkat Hana), sedang buang air besar di selokan depan rumahnya. Awalnya kami pikir ia sedang pipis, tapi setelah melihat ada yang keluar (You know what I mean) barulah kami sadar kalau dia sedang buang air besar.

Habis itu, aku dan Hana pergi ke rumah Fey lagi. Untuk mengerjakan tugas. Sampai di sana aku melihat Fey sedang membantu ibu angkatnya memasak. Aku menyapa ibu dan minta ijin ke atas dulu, ke kamar Fey. Diatas ada Raven yang sedang siap-siap untuk mandi. Saat Raven sedang mandi, Fey naik ke atas. Fey juga mau bersiap-siap untuk mandi.Fey kebawah, Raven naik.Raven bilang “Aku mau tidur ya? Nanti bangunin jam 7 aja. Tugas aku udah selesai kok.”Aku dan Hana menjawab dengan anggukan.Kami pun mengerjakan tantangan yang kakak berikan ke kami. Jam 7, Raven sudah bangun dan ada Fey, Steff, Hana, Ojan dan Carenza. Kami berenam mengobrol tentang apasaja. Ada yang tentang lagu, cerita random.Apapun. Tapi karena aku sempat menunda pekerjaan, maka disaat mereka sedang mengobrol, aku masih sibuk meulis dan mengingat-ingat apa saja yang barusan sore diobrolkan dengan Kang Uus. Seusai aku menuntaskan tugas.Aku ikut mengobrol.

Saat aku lihat jam di tangan Hana, ternyata sudah jam 7.25, jadi aku bilang ke yang lain untuk ke base camp. Saat kami berenam sampai di base camp, kami melihat di rumah pohon tidak ada kakak.Jadi kami memutuskan untuk ke rumah keluarga angkat Fathan, takut menggangu kakak. Sampai disana, kami mengajak mereka untuk pergi ke base camp bersama-sama.

Di base camp, sama seperti yang biasanya. Kami mengumpulkan tantangan, kakak berpesan agar kami menyapa pada warga sekitar dan sedikit briefing untuk besok pagi.Setelahnya, kami pamit pulang ke rumah.Sampai di rumah, masih belum ada makanan.Ibu masih menggoreng.Sekitar 15 menit menunggu, makanan sudah tersaji.Kami makan dengan lahap, bersama dengan Naviska dan Neva juga.Setelahnya kami keatas dan tidur.

 

 

 

HARI KETIGA

Tak terasa sudah hari ketiga kami berkegiatan di Desa Babakan Ranca.Sedih?Iya.Senang?Iya. Sedih karena harus pulang, meninggalkan sejuta perasaan..eh meninggalkan hawa dingin dan udara sejuknya. Aku bangun jam 5.00, kami bertiga tidak mau ketinggalan sun rise lagi, jadinya kami bertiga ke teras lantai dua. Dari teras lantai dua, kami bisa lihat gunung Papandayan dan pemandangan.Karena kebetulan masih terlalu pagi, maka langitnya masih gelap. Aku ingat dengan apa yang Hana bilang, jadi kami bertiga menjemput Hana dan teman sermahnya untuk melihat sun rise. Setelah menjemput mereka, kami naik keatas dan melihat sun rise.Tapi sayang, langitnya masih terlalu gelap sementara kami sudah harus berkumpul di base camp. Kami mau memerah susu sapi.

Kami memutuskan untuk turun ke bawah, tadinya mau langsung pamit.Tapi ibu bilang kita minum bubur kacang hijau terlebih dahulu.Biar ada yang mengganjal sebelum sarapan.Akhirnya kami bertiga minum dulu, tapi karena panas dan sudah waktunya berkumpul di base camp. Jadi kami pamit dan memutuskan untuk meminum bubur kacang hijaunya nanti saja setelah memerah susu sapi. Sampainya kami di base camp, ternyata masih belum semua kelompok berkumpul.Masih ada kelompoknya Fathan yang belum ada. Kami menunggu mereka namun mereka tidak kunjung datang juga, jadilah kelompok Reza menyusul ke sana. Saat datang, ternyata barusan kelompok Fathan masih tidur.

Kami memerah sapi milik Pak Ubu, ayah angkat kelompok Bening. Kami menunggu ia datang cukup lama juga, karena ia juga sama. Masih tertidur.Saat kami melihat Pak Ubu sudah sampai, beberapa anak langsung ikut Pak Ubu ke kandang sapi. Tapi aku melihat Kak Koben berjongkok untuk membetulkan sesuatu, tepat saat itu juga korek api milik Kak Koben jatuh. Kak Steva menyenggolku dan bilang “Itu ambil koreknya”.Diam-diam aku ambil korek itu dengan hati-hati.Setelah Kak Koben berdiri, aku bisa lihat kalau Kak Koben mencari-cari koreknya.Dengan santai aku bertanya ke Kak Koben “Kak, sekarang langsung ke sana?” maksudku ke kandang sapi, Kak Koben menjawab “Iya iya, sok ke sana aja langsung.”Saat aku sedang berjalan, aku melihat Kak Koben menanyai beberapa anak tentang koreknya yang hilang.Ngakak banget tau, muka dan ekspresinya Kak Koben saat itu lucu banget. Kayak kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Tapi Hana tau kalau koreknya ada di aku.Hana teriak “Kak! Koreknya ada di Grace!”.Hahaha, lucu deh.

Korek api pun kembali ke pemiliknya. Kami masih menunggu sapi selesai dibesihkan. Selagi menunggu Pak Ubu membersihkan sapinya, kami melihat sapi itu makan, ternyata ia punya anak juga. Anaknya baru satu minggu, yang kecil.Anaknya yang sudah besar baru satu tahun tapi sudah hamil.Keren ya?Sapinya makan dengan lahap lho.Akhirnya Pak Ubu selesai juga membersihkan sapinya, kami mulai bergilir memerah sapinya.Saat memerah sapi, yang aku rasakan adalah geli.Karena memang lembek dan licin.Tapi lucu sih. Memerah susunya juga tidak susah, hanya perlu penekanan sedikit saja. Sesudah susunya cukup untuk anak sapinya yang keil, susu hasil perahan kami diberikan kepada anak sapi itu. Lucu loh, warna anaknya coklat putih.

IMG_9221

Seusai kami memerah susu sapi, kami kembali ke rumah masing-masing untuk beres-beres perlengkapan dan sarapan, juga mandi. Setelah aku mandi, aku ke atas untuk beres-beres barang.Karena tinggal aku yang masih belum siap-siap. Setelah semua barang masuk ke tas, BAM! Resleting tasku dua-duanya  lepas begitu saja. Jelas aku panik.Tapi aku coba untuk menenangkan diri dulu. Setelahnya aku ke bawah dan bilang ke yang lain. Hana langsung ke kakak dan bilang soal ini.Kata kakak, pakai tali rafia saja. Aku pun beli tali rafia sama Hana. Setelahnya, kami makan sarapan dahulu. Baru aku membawa tas dan tali rafia ku ke rumah hana, untuk diikat dan mengikatnya dibantu dengan Hana.Setelah tasku terikat, tasnya di tutupi dengan rain cover milik Hana.

Kami berkumpul lagi tanpa membawa apa-apa di base camp.Tasnya sengaja kami tinggalkan di rumah masing-masing.Diambilnya nanti saja sekalian pamit pulang.

IMG_9242

Di base camp kami foto dulu dengan Kang Uus. Sesudah kami foto, baru kami keliling untuk pamit dan mengambil tas. Kami berkeliling, awalnya dari rumah Fathan ke rumah Reza lalu ke rumah Steffany ke rumah Niwa baru ke rumahku. Setelah pamit dan berfoto, kami jalan ke kebun teh! Di perjalanan menuju ke kebun teh, ada satu ulat bulu yang besar, warnanya coklat.Ulat bulu itu ada di jalanan, hamper terlindas beberapa motor.Beberapa dari kami teriak-teriak takut ulat bulunya terlindas.

Sampai di perkebunan teh, udaranya sangat sejuk, jalannya memang berbatu, tapi asik dan keren banget.Sampailah kami di tanjakan pertama, kalau dilihat dari bawah sih panjang tanjakannya.Tapi setelah kami naik, tanjakannya tidak berasa kok, malah berasa cepat sekali.Sesudah tanjakan pertama, kami beristirahat dulu.Sebentar.Lalu Kang Uus bertanya “Mau yang rata atau menanjak?Kalau yang rata kita muter, tapi kalau yang menanjak bakalan lebih cepat.”Teman-teman lebih memilih untuk menanjak. Setelah beberapa tanjakan, akhirnya kami sampai di puncak! Puncak kebun teh…

IMG_9283

Langsung kami turun lagi, karena tujuan kami adalah ke Danau Cisanti.Penjalanannya lebih sulit karena turun, dan juga karena tertutup oleh tanaman.Aku bahkan beberapa kali jatuh dan memutuskan untuk nyerodot.Sampai di jalan raya, aku merasa jauh lebih baik. Memang susah tapi asikkkk banget.

Akhirnya kami sampai di danau! Beberapa anak memilih untuk ikut Kak Koben yang mau nyebur, tapi lebih banyak yang memilih untuk makan terlebih dahulu.Aku juga makan terlebih dahulu.Kami makan mie instan.Setelah makan, kami semua jalan ke Kak Koben, berakhir dengan hamper semua anak nyebur.Sesudah sekitar 15 menit kami nyebur, kakak bilang waktunya habis.

IMG_9312

Jadi kami jalan ke depan untuk mengambil pakaian. Beberapa kali ada orang yang bertanya “Kenapa neng?” aku pun menjawab “Tadi kami nyebur pak…” lalu si bapak teriak ke temannya “Ini anak- anak dari Bandung pada kecebur!” lah, nyebur pak.. bukan kecebur. Sampai di depan, aku mengambil baju. Sudah antri, tapi karena lama, aku akhirnya jalan ke mushola yang jauh sama Carenza. Saat kami kembali, semuanya sudah selesai.Pas waktunya. Lalu kami naik ke angkot dan pulang!

Di angkot kami tidak seheboh dari saat kami berangkat.Lebih banyak diam. Bahkan ada yang tidurnya sangat cepat.Kami menghabiskan waktu perjalanan pulang dengan mendengarkan lagu dari hapenya Kak Koben, kami juga cerita-cerita.Karena kami mengobrol, jadinya tak terasa sudah sampai lagi.Hawanya sangat berbeda dengan disana.Di Bandung panas dan udaranya kotor. Kalau di sana masih dingin dan udaranya masih bersih. Sampai di sekolah, belum semuanya dijemput, tapi kami berkumpul sebentar lalu kami pulang ke rumah masing-masing. SERUUU!!!!

Photos by :Kak Steva

My trip to Babakan Ranca Village

At 29 March 2016, Anjasmoro class went on a trip. This is not the trip that we usually go. We called it Nyaba Lembur. Nyaba Lembur is the same like Live In. We went to a village, live there for about 3 days. We don’t sleep in a tent, we sleep in other people house. Who’s house? We don’t know, but we have to live with them in their house. We help them doing their job, we play with their children, we eat the same menu like them. For me, this trip was fun. I learn a lot from this trip.

IMG_9120

Photo by : Kak Steva

This year, our class went to Babakan Ranca village. Babakan Ranca village is near Cisanti lake. I like the village, when we just got in to the village (Still in the car) all that we see was tea garden. It was huge and green.

IMG_9110

Photo by : Kak Steva

There is a lot of chicken, everywhere. At the road, we could see a lot of chicken. Nobody have it, its for everyone. There is a lot of cow too (the baby one was cute, really cute!), and a lot of dogs. They have their own garden (for together, not for one family only). They have a huge garden for planting leek, potatoes, cabbage and others. But the thing that I already missed from this village was the air. The air that I breathe was still cool, there is no pollution. I wish that Bandung air is still like that. Well when it was still 17.00 PM, the temperature was so cold. We have to wear jacket, blankets, long-sleeve clothes and trousers. That’s why we sleep in home, because if we sleep in a tent I will be freezing.

The house that I lived in is Pak Asep and Bu Erni’s house, the house was quite warm. It’s not huge, but it’s not small. I feel comfortable there. The house have a kitchen, 3 bed rooms (two at the first floor and one in the second floor). They put carpets on the floor, because the floor is cold. Real cold. Beside the kitchen, there is a bathroom. The bathroom was clean. They have a living room too, with 3 couch and a table.

People there have some electronic like us now. My family have television and cell phones. Pak Asep and Bu Erni have 3 kids, the first one is a boy. His name is Riko he is 12, still in grade 6 primary school. The second child is a girl, her name is Naviska. Her age now is 7, grade 2 in primary school. And the last one is a girl too, her name is Novisya. She haven’t got in school, because her age is still 2,5.

The people in Babakan Ranca village is nice and friendly. They smiled every time I walk through them. It’s fun to talk with them, and they want to share with us. It could be food, stories, toys and skills. Some of them told me how to plant cabbage.

In a trip like this, we have to know their culture. In Babakan Ranca, we talk Sundanese, smile and say ‘Excuse me’ in Sundanese every time we pass some people. I had a lot of fun there, but it’s just three days, so fast! Before we go home, we hike to Wayang mountain. We don’t makeit to the top of Wayang mountain, but we made it to the top of the tea garden. And after the hike, we went to Cisanti lake. The lake is amazing. I love it.

Well that’s my trip, it was fun and I want to come back there again. Especially to the lake!